Tips dan Trik Membuat Kebiasaan Makan yang Baik untuk Bayi Anda

Diposting pada

Kebiasaan makan bayi yang buruk dapat menyebabkan masalah kesehatan di kemudian hari. Tentunya Anda tidak ingin bayi Anda terkena masalah kesehatan, bukan? Untuk menghindari hal tersebut, Anda bisa membuat kebiasaan makan yang baik untuk bayi Anda sendiri. Apa saja? Simak ulasannya dalam artikel ini.

Aturan menerapkan kebiasaan makan bayi yang baik

Menerapkan kebiasaan makan yang baik sudah bisa Anda mulai saat bayi memasuki usia 6-8 bulan. Pasalnya di usia tersebut, bayi sudah mulai dikenalkan dengan makanan pendamping ASI.

Saat memberikan makanan pendamping ASI, pastikan makanan tersebut bertekstur lembut, mudah dilumat dan ditelan sehingga bayi tidak tersedak. Jangan memberi bayi Anda makanan yang perlu dikunyah, meskipun mungkin bayi Anda sudah memiliki gigi. Anda dapat menggunakan blender atau food processor, bahkan garpu untuk melumatkan makanan  supaya lebih lembut. Semua makanan harus lembut, tawar, tidak berbumbu, dan dimasak dengan baik.

Sayuran segar matang dan buah-buahan rebus adalah makanan yang paling mudah untuk dibuat. Semua buah-buahan, kecuali pisang, harus dimasak hingga lunak. Segera masukkan bahan makanan yang tidak digunakan ke dalam lemari pendingin. Periksa secara berkala kesegaran sayur dan buah sebelum memberikannya kepada bayi Anda. Tidak seperti produk komersil, makanan buatan rumah tidak bebas bakteri, sehingga makanan tersebut akan lebih cepat rusak.

Agar bayi merasa nyaman, tempat bayi di atas kursi makan khusus untuk bayi. Kursi harus dilapisi dengan bantalan yang dapat dilepas dan dicuci apabila kotor terkena tumpahan makanan. Pilihlah kursi tinggi dengan baki yang pinggirannya lebih tinggi serta bisa dilepas. Pinggiran baki yang tinggi akan mencegah piring dan makanan jatuh ke lantai ketika bayi sedang makan. Sementara itu, baki bisa dilepas dan dibersihkan langsung di atas wastafel.

Mencegah ancaman obesitas pada bayi

Ketika bayi masih kecil, beberapa orangtua sudah mulai khawatir bayinya mengalami kelebihan berat badan. Obesitas dan komplikasi potensial lainnya (seperti diabetes) pada anak bisa terjadi, sehingga orangtua harus peka terhadap gejalanya, terlepas dari berapa pun usia anak. Dalam banyak kasus, bayi yang minum susu botol cenderung lebih cepat mengalami kenaikan berat badan daripada bayi yang diberi ASI. Namun, jangan biarkan kecemasan Anda terhadap obesitas mengurangi asupan makanan selama tahun pertama bayi.

Konsultasikanlah dengan dokter Anda sebelum mengatur pola makan anak. Di tahun pertamanya, bayi membutuhkan asupan lemak, karbohidrat, dan protein yang seimbang. Setelah anak diberikan makanan padat, fesesnya akan menjadi lebih padat dan warnanya lebih bervariasi. Feses juga akan menimbulkan bau yang lebih kuat apabila anak mengonsumsi gula dan lemak.

Jika makanan tidak dilumatkan, feses (tinja) anak akan mengandung partikel makanan yang tidak tercerna, misalnya kulit kacang polong atau jagung, dan kulit tomat atau sayuran lainnya. Anda tidak perlu khawatir karena hal ini normal terjadi. Namun, apabila feses sangat encer, berair, atau penuh lendir, anak Anda mungkin mengalami iritasi pada saluran pencernaannya. Segera berkonsultasi dengan dokter anak untuk diagnosis masalah pencernaan yang akurat. Dari kondisi anak, dokter bisa menentukan apakah bayi makan terlalu banyak, tidak cukup makan, atau terlalu banyak makan makanan yang salah.

Biasakan diri mengatur jumlah kalori dan gizi yang anak Anda makan, sehingga asupan nutrisi yang tepat dapat tetap terjaga. Jangan lupa, perhatikan juga kebiasaan makan anggota keluarga. Ketika bayi Anda sudah mulai terbiasa dengan ‘makanan di atas meja’, bayi akan meniru cara Anda makan, termasuk menggunakan garam tambahan dan mengunyah makanan ringan dan makanan olahan yang asin. Demi kebaikan bayi dan diri Anda sendiri, sebaiknya kurangi penggunaan garam dan pilihlah menu makanan sehat yang kaya nutrisi.

 

Share to...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *